Oleh: andyca | 31 - 05 - 08

Diare

Setiap Tahun 100.000 Anak Mati karena Diare di Indonesia

Laporan Wartawan Kompas Khaerudin

MEDAN, KOMPAS- Setiap tahun rata-rata 100.000 anak meninggal dunia karena diare di Indonesia. Kematian balita akibat diare di Indonesia merupakan yang tertinggi kedua setelah malnutrisi. Bahkan kematian anak akibat malnutrisi juga tidak lepas dari serangan diare.

Penyebab utama tingginya kematian anak karena diare di Indonesia terkait dengan minimnya perilaku hidup bersih masyarakat dan sanitasi yang buruk. Namun banyak orang cenderung meyakini bahwa penyebab diare tak terkait dengan perilaku bersih dan sanitasi. Banyak yang masih beranggapan penyebab diare adalah keracunan makanan, musim , tanda-tanda pertumbuhan bagi bayi dan faktor-faktor klenik.

“Kebanyakan respon masyarakat terhadap diare adalah menghentikan penyakitnya terlebih dulu. Padahal yang penting adalah bagaimana membangun persepsi masyarakat tentang menanggulangi diare dengan benar,” ujar Alifah Lestari, participatory monitoring and evaluation specialist pada Enviromental Services Program di Medan, Minggu (26/11).

Menurut Alifah, masih banyak persepsi yang salah pada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sanitasi yang baik. Dia mencontohkan, banyak ibu rumah tangga yang beranggapan kotoran anak tidak berbahaya.

Hal senada diungkapkan dr Delyuzar SpPA dari Jaringan Kesehatan Masyarakat. Menurut dia, masyarakat masih menganggap menanggulangi diare hanya dengan menghentikan gejala penyakitnya seperti mencret pada anak. “Padahal yang harus ditanggulangi adalah kurangnya cairan terlebih dulu,” ujarnya.

Persoalan ketersediaan air bersih inilah yang menurut Alifah dan Delyuzar ikut berpengaruh besar terhadap tinggi kasus diare pada anak Indonesia. “Kalau air bersihnya sedikit, dia mudah terkontaminasi oleh kotoran. Ini semakin diperparah dengan perilaku hidup bersih yang minim dan buruknya sanitasi,” kata Alifah.

Pada gilirannya, diare tidak hanya menyerang anak-anak dari keluarga miskin yang tinggal di perkotaan, kelompok yang kurang memiliki akses terhadap air bersih. “Di pedesaan pun banyak ditemui kasus diare karena persoalan perilaku hidup bersih. Masyarakat di pedesaan biasa seenaknya membuang kotoran, ada yang ke sungai, bahkan ada yang dibungkus plastik dan dibuang begitu saja,” kata Alifah.

Kejadian luar biasa (KLB) diare tahun 2005 tercatat paling banyak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni tiga KLB dengan jumlah penderita mencapai 2194 dan jumlah yang meninggal mencapai 28. “NTT merupakan daerah dengan tingkat penderita diare tertinggi karena perilaku hidup bersih masyarakat di sana masih memprihatinkan. Mereka lebih suka mengkonsumsi air mentah dibanding air yang dimasak, padahal air bersih di sana tidak terlalu banyak,” ujar Alifah.

Provinsi lain yang juga tinggi tingkat penderita diare terkait dengan perilaku hidup sehat masyarakat adalah Banten dan Papua. Namun tingkat kematian penderita yang paling tinggi justru terjadi di Sulawesi Tengah, dari 69 penderita di tahun 2005, sebanyak 13 di antaranya meninggal dunia.


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori